Ayahku bukan siapa-siapa....

(ditulis pada January 4, 2013)

sejak bergabung jadi PNS, jadi sering terima undangan nikah yang aku ga kenal pengantinnya...tapi karena disebutkan putra dari si A, putri si B..maka tau lah aku bahwa ybs anak pejabat di sana, anak pejabat yang itu...enaknya jd anak orang terkenal ya...itu baru pejabat tingkat lokal..gimana kalo anak pejabat negara...lihat deh di infotainment..hhmmmm...anak presiden nikah sama artis ini, pernikahan anak tokoh partai A dengan anak tokoh partai B menjadi koalisi antara kedua partai..waahhh...hebat amat ya...pasti 'sesuatu' banget lah jadi anak org terkenal...sangat berbeda dengan kondisiku...karena ayahku bukan siapa-siapa....


Yupp..ayahku  bukan siapa-siapa...dulu, waktu masih kecil, terus terang aku sering bingung sendiri jika disuruh mengisi kolom pekerjaan orangtua..yang lain bisa dengan mudahnya menulis pekerjaan ayahnya sebagai ABRI, atau dokter, atau guru...sementara aku biasanya hanya bisa mengisi kolom itu dengan kata 'karyawan' atau 'wiraswasta'...dan kebingungan ini akan bertambah jika bapak/ibu guru memanggilku untuk menanyakan dg lebih detail pekerjaan apa yang dilakukan ayahku...boleh ga ya saya bilang 'pencari nafkah keluarga' saja...batinku saat itu...



ayahku bukan siapa-siapa...hanya lulusan SMP..mendapat ijasah SMA pun dengan mengikuti ujian persamaan..tapi beliau dengan gagah berani memutuskan bahwa dia lah satu-satunya pencari nafkah keluarga, sementara ibu yang sebenarnya memiliki pendidikan lebih tinggi saat itu (ibu sudah lulus SMA sejak menikah, ayahku mengambil ujian persamaan SMA saat sudah memiliki kami 5 bersaudara) diminta full memberikan waktu dan perhatiannya untuk anak-anak karena ingin kami menjadi generasi yang mumpuni...walau hanya lulusan SMP, rupanya ayahku sangat sadar pentingnya peran ibu dalam membesarkan anak-anaknya..mungkin sebagian orang berfikir bahwa itu hanyalah bentuk dominasi seorang suami terhadap istri..wah, salah besar kalau ada yang berfikir seperti itu..buktinya, pada saat kami anak2nya mulai besar (saat itu aku si bungsu sudah kelas 3 SD) ibuku diperbolehkan kerja kembali dan bahkan ayah menyekolahkan ibu ke jenjang S1...dukungan moril-materil jelas diberikan pada ibuku agar semakin maju.. padahal saat itu ayahku sudah memiliki ijasah SMA..kalau saja beliau egois, merasa laki-laki harus diutamakan...gak mungkin ibu yang justru disekolahkan...ayahku ga mungkin paham soal kesetaraan gender, tapi yang beliau praktekkan sudah lebih dari sekedar 'menyetarakan'....

Ayahku memang bukan siapa-siapa...apa sih pekerjaan yang bisa diperoleh dari seorang lulusan SMP? sepanjang ingatanku..beliau pernah menjadi supir di salah satu perusahaan pelayaran swasta, kemudian beranjak menjadi pemegang proyek di perusahaan tersebut...namun segala intrik di lapangan pada saat pelaksanaan proyek-proyek tersebut membuat beliau merasa banyak melakukan hal yang bertentangan dengan nurani, hingga akhirnya beliau memutuskan keluar dari perusahaan tersebut...komitmen beliau untuk menjadi satu-satunya pencari nafkah membuat beliau harus memutar otak dalam mencari rejeki untuk anak dan istrinya. Sekitar tahun 80-an, ayahku pernah mencoba peruntungan menjadi peternak ayam boiler. Halaman rumah kami yang memang cukup luas disulap menjadi kandang-kandang ayam berukuran besar...hampir sama besar dengan rumah kami saat itu..aku yang saat itu masih berumur 6 tahun-an, cukup terhibur dengan banyaknya ayam peliharaan kami (walau saat mulai masuk SD sepertinya profesi peternak ayam tampak kurang keren dimata teman2..hiks..sering jd bahan ejekan)...namun usaha ini pun tidak selalu berjalan mulus...hingga akhirnya peternakan ayam  di tutup dan ayahku menjadi pegawai administrasi di satu-satunya universtitas swasta di kotaku saat itu...inipun rupanya bukan menjadi pekerjaan terakhir beliau, karena suatu hal beliau berhenti jadi pegawai administrasi dan mencoba usaha serabutan sana-sini...membesarkan dan menyediakan kebutuhan 5 orang anak , tentunya bukan perkara mudah buat beliau....

Ayahku bukan siapa-siapa....tapi beliau sangat tidak ingin anak-anaknya menjadi bukan siapa-siapa...beliau bercita-cita agar smua anak-anaknya menjadi sarjana...aku masih ingat saat beliau mengharuskan kami masuk universitas negeri..."kalau gak rajin belajar dan ga  masuk PTN, silahkan jd lulusan SMA saja...karena orang tua kalian gak mampu membiayai masuk PTS"...olala, kamipun ketar-ketir setengah mati berusaha belajar dengan baik...dan akhirnya 4 diantara kamipun masuk ke PTN di Bandung. hanya kakak nomor 2 saja yang kuliah di PTN Jakarta. Walau semua serba pas-pasan, namun pelajaran yang didapat tidak pas-pasan...kemandirian, kemampuan mengatur pemakaian uang serta kesederhanaan menjadi bekal yang penting bagi kami..dan lagi, kondisi kami saat itu ternyata justru menghadirkan sahabat-sahabat sejati..yang menjadi teman semata karena sehati...

Ayahku bukan siapa-siapa...pesan terakhirnya pun sangat sederhana: harus berjuang untuk kebaikan...pesan yang awalnya terdengar mengawang-ngawang...tapi ternyata begitu mendalam setelah diterapkan dalam kehidupan...saat menghadapi masalah, solusi yang harus dibuat, sikap yang harus diambil menjadi nampak sangat jelas bila di kaitkan dengan pesannya....keraguan dan ketakutan menjadi hilang saat kita dihadapkan pada niat berjuang untuk kebaikan..Subhanallah...

Ayahku bukan siapa-siapa..hanya pria biasa dengan cita-cita sederhana...
Bukan pejabat, bukan cendikiawan, bukan tokoh agama...
Tapi bagiku dia sungguh luar biasa, segala kekurangannya justru menjadikannya amat istimewa...

(Rindu teramat sangat buat Papap)

Comments

Popular Posts